Langsung ke konten utama

Postingan

Malam Kesenian

Acara pentas seni malam ini akhirnya selesai. Hari ini aku pergi sendiri, hanya diantar jemput suami. Seharusnya aku tidak menunggu terlalu lama di dalam gedung dan segera pulang. Namun karena tidak ingin berdesak-desakan keluar dari gerbang, aku menunggu suasana agak sepi. Sayangnya aku tidak tau bahwa masih akan ada agenda setelah pertunjukan pentas seni tersebut. Acara yang hanya diikuti kalangan tertentu. Aku terlambat. Beberapa saat sebelum aku bermaksud meninggalkan gedung museum ini, pintu gerbang sudah ditutup. (Sumber gambar: ifanishere.com) Acara akan dilanjutkan dengan kegiatan tirakatan bersama para abdi dalem keraton. Aku mencoba menelpon suamiku untuk minta dijemput, tapi tidak ada yang mengangkat. Sambil menggendong tas ransel aku berjalan ke arah sekumpulan panitia. Aku meminta ijin untuk keluar, namun mereka tidak mengijinkan dengan alasan gedung itu sudah "dibentengi". Katanya untuk mencegah gangguan dari luar yang dapat mengacaukan acara tira...

Aileen's Story (Part 1): Awal Mula

Cerita Aileen berawal dari meninggalnya eyang buyut (yangyut) kakung Aileen (dari garis ayah) tahun 2015. Momi lagi hamil Keenan. Waktu itu Aileen belum genap 2 tahun, tapi dia sudah lancar bercerita. Sewaktu di rumah duka, Aileen sempat bilang sama momi "Ma, itu kenapa yangyut ada dua? Yang satu tidur (di peti), yang satu lagi duduk di (teras) depan". Momi awalnya gak terlalu mikirin, mungkin anak ini cuma ngayal. Sepulang dari rumah duka, malamnya Aileen tidur sama Kakung. Tapi semalaman dia gak mau tidur, malah main terus sambil ngoceh (cerita sendiri) sampai dini hari. Lalu dia mulai rewel, mungkin karena udah ngantuk banget, sambil nangis dia bilang "Udah to kak, aku mau bobok". Gak tau siapa yang dia panggil kakak. Aileen digendong kakungnya pake selendang. Kakung bilang "Udah bobok sekarang, sambil kakung gendong, kamu merem." Aileen merem, tapi masih sambil nangis dia bilang ke kakung "Itu kakak...nakal..tarik-tarik kakiku terus..a...

Gerimis di Bulan Desember ☔☔☔ - short story

Yogyakarta Desember 2008 "Sudah berapa lama?", tanya Laras. "Enam tahun", jawab Banyu. Mereka berdua terdiam. Tak berani menatap satu sama lain. "Kenapa kamu tidak pernah bilang?" "Karena kamu tidak pernah sendiri." Laras menatap langit sore itu. Gerimis membuat suasana hatinya semakin sendu. Ia tenggelam dalam dunianya sendiri. Mengingat pertemuannya dengan Banyu siang tadi. Enam tahun bukan waktu yang sebentar. Banyu adalah cinta pertamanya, tapi ia hanya berani menatapnya dari jauh. Karena baginya, Banyu terlalu tinggi untuk diraih, terlalu jauh untuk ia sapa. Demikian pula bagi Banyu, Laras bukan seseorang yang mudah ia lupakan. Entah cinta pertama atau bukan, tapi ia selalu menanti. Menanti kesempatan itu datang padanya. Disaat Laras tidak berdua. Karena bagi keduanya, seakan-akan waktu sedang mempermainkan mereka. Laras menghela nafas. Ia membalikkan badannya dan menatap Banyu, "Itu karena terlalu mustahil rasanya jika kamu meny...

Alexander Keenan Dikaracetta - Keenan dari Perahu Kertas

Dear Keenan, Tau kah nak, bahwa namamu diambil dari nama tokoh utama dalam buku Perahu Kertas? Ini adalah salah satu buku favorit mama (selain buku-buku karya Andrea Hirata, Dave Pelzer, dan Dan Brown). Buku Perahu Kertas karya Dee (Dewi Lestari) ini dulu direkomendasiin sama om Prasetya Jati yang juga hobi baca. Dulu mama beli dengan harga diskon Rp. 45.000,- tahun 2012. Mama suka banget dengan alur ceritanya dan langsung jatuh cinta sama kedua tokohnya, Kugy dan Keenan. Buku ini mengajarkan kita untuk tidak menyerah mewujudkan mimpi-mimpi kita, meskipun jalan yang ditempuh seringkali sulit, harus memutar dan lebih panjang. Kugy itu seperti kakakmu, Aileen, dia pengkhayal dan berantakan. Penuh dengan imajinasi dan pecinta dongeng. Cocok banget kan sama kakak? Dulu waktu kakakmu lahir, mama pengen kasih nama dia Kugy, tapi sama ayah gak boleh karna gak jelas arti namanya.. 😂😂 (karna ayahmu itu lebih suka main game daripada baca buku, makanya jadi gak peka 😒😒). Nah, waktu kamu lah...

Si Teteh - Para Penghuni Asrama Part 2

Sudah hampir setahun Marni dan Tuti tinggal di asrama Kenanga. Keusilan demi keusilan si teteh sudah pernah merek rasakan. Keusilan yang (paling ringan dan) biasa terjadi adalah suara ketukan di pintu. Biasanya "ketukan palsu" ini terjadi di atas jam 10 malam. Saat pintu dibuka, tidak ada orang yang mengetuk. Keusilan ini dialami hampir semua mahasiswa, bisa dikatakan tidak ada kamar yang terlewat dari ketukan palsu di pintu oleh si teteh. Si teteh ini sepertinya sangat ingin diakui keberadaannya. Sehingga keusilan teteh berikutnya adalah sangat suka ikut berfoto. Pada berbagai acara mahasiswa, misalnya ulang tahun atau buka bersama, saat sesi foto-foto biasanya si teteh akan ikut berfoto di antara para mahasiswa. Apakah hanya di satu foto? Jawabannya: tidak. Si teteh ikut berfoto hampir di semua foto. Baik itu foto rame-rame maupun selfie. Bayangkan saja di setiap foto yang kamu ambil selalu ada bayangan sosok wanita berambut panjang di belakangmu dengan tatapan kosong dan ...

Where There Is A Will, There Is A Way - Perjalanan Mendapat Beasiswa

Ungkapan tersebut pastinya udah sering banget kan ya kalian dengar atau baca. Di mana ada kemauan, maka pasti ada jalan untuk mencapai tujuan. Ungkapan tersebut rasa-rasanya adalah yang paling pas menggambarkan situasi yang momi dan teman-teman satu tim alami saat ini. Momi mau sedikit bercerita bagaimana perjuangan momi mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi S2. Awal tahun 2015, momi menyampaikan niatan hati ke suami kalo momi ingin melanjutkan studi magister. Waktu itu keinginan momi cukup menggebu-gebu, apalagi setelah banyak teman-teman momi bisa melanjutkan studi di luar negeri. Kalau diingat-ingat saat itu momi sangat kurang persiapan, tapi nekat melamar beasiswa LN LPDP. Cuma berbekal nilai toefl ITP yang berada di batas persyaratan, rekomendasi dari dosen, belum punya LoA, bahkan belum pasti nantinya mau penelitian tentang apa, hasilnya sudah pasti mudah ditebak. Momi gagal di tahap seleksi substansi. Lalu apalah momi mengurungkan niat melanjutkan studi karena gagal mendap...

Si Teteh - Para Penghuni Asrama Part 1

Kisah berikut diceritakan kembali berdasarkan kisah nyata yang dialami oleh seorang teman kuliah Momi di Biotek, saat ia masih berkuliah di Bogor. Enjoy it! ***** Tahun 2010, Marni (bukan nama sebenarnya) diterima sebagai mahasiswa salah satu universitas terkemuka di Bogor. Sebagai anak rantau, Marni harus memilih antara tinggal di kost-kostan atau asrama. Akhirnya ia memilih tinggal di asrama yang disediakan pihak kampus karena harga sewanya lebih murah. Asrama yang Marni tempati tidak terlalu jauh dari kampus, namun juga tidak terlalu dekat. Lokasinya di tengah-tengah kebun dan dikelilingi oleh pohon-pohon besar. Menjelang petang, anak-anak asrama lebih memilih berada di kamar masing-masing daripada melakukan aktivitas di luar, karena jalan menuju asrama cukup gelap dan mencekam untuk dilewati. Asrama tersebut terdiri dari 3 lantai, dengan jendela-jendela menghadap ke luar pada masing-masing kamar. Tidak ada balkon di asrama tersebut, semua temboknya rata dari atas sampai bawah. ...